menulis memaksa aku untuk membaca, membaca membuat aku berfikir, berfikir membuat aku...........
Tampilkan postingan dengan label Karbon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karbon. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Februari 2016
Jumat, 26 Februari 2016
Cadangan Karbon
Pemanasan global (global warming) menjadi isu hangat yang semakin sering dibahas, khususnya mengenai perubahan iklim. Hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup (2012) menyebutkan bahwa dampak dari pemanasan global di Palembang ditandai dengan adanya trend kenaikan suhu udara sebesar 0,31 °C sepanjang 25 tahun terakhir.
Perubahan iklim terjadi melalui proses panjang akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Gas karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu GRK yang memberikan andil besar dalam pemanasan global dengan menyumbang 20% dari seluruh emisi GRK. Selain CO2 gas rumah kaca lainnya diantaranya adalah metana (CH4), nitros oksida (N2O), nitrogen oksida (NOx), sulfur heksaflourida (SF6), hidrofluorokarbon (HFC) dan perfluorokarbon (PFC).
Hutan mempunyai manfaat sebagai tempat penyimpanan dan penyerapan karbon. Hairiah dan Subekti (2007) menerangkan bahwa hutan alami merupakan penyimpanan karbon tertinggi bila dibandingkan dengan lahan pertanian.
Gambar 1. Hutan sebagai carbon sink
Peranan hutan dalam mengurangi CO2 di atmosfer dilakukan melalui proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, CO2 di udara diserap oleh tanaman kemudian diubah menjadi karbohidrat, disebarkan ke seluruh tubuh tanaman yang ditimbun dalam batang, daun, ranting, akar, bunga, dan buah. Menurut Junaedi (2008), adanya kemampuan alami tumbuhan untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis menyebabkan hutan memiliki peran yang sangat vital dalam menyerap CO2 pada skala jumlah yang besar. Hal ini terjadi karena di dalam hutan terjadi proses akumulasi penyerapan CO2 secara kolektif oleh tumbuhan.
Kemampuan hutan menyerap dan menyimpan karbon berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim memberi peluang ekonomi dalam skema perdagangan karbon. Cadangan karbon menjadi penting dalam pengelolaan kawasan hutan. Selain sebagai sumber masukan bagi pengelola kawasan konservasi ketika mekanisme perdagangan karbon sudah berjalan, informasi cadangan karbon juga dapat dijadikan dasar dalam memelihara dan meningkatkan penyerapan karbon melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Cadangan karbon pada dasarnya merupakan banyaknya karbon yang tersimpan pada vegetasi, biomass lain dan di dalam tanah (Lugina dkk, 2011). Jumlah karbon tersimpan berbeda-beda tergantung pada keragaman jenis dan kerapatan tumbuhan serta jenis tanah. Besarnya nilai cadangan karbon dapat diketahui dengan cara mengukur karbon tersimpan pada sumber-sumber karbon (carbon pool). Teknis pengukuran karbon secara umum dapat mengacu pada IPCC 2006 atau SNI 7724-2011 dan SNI 7725-2011.
Jumat, 13 Maret 2015
Pengukuran Karbon Tanah berdasarkan Petunjuk Teknis Pengukuran Stok Karbon National Forest Inventory (NFI)
[Jumat, 13 Maret 2015]. Berikut ini merupakan tahapan pengukuran dan
pengambilan contoh tanah untuk kepentingan pengukuran karbon berdasarkan National Forest Inventory (NFI).
Adapun tahapannya adalah sebagai
berikut:
- Lokasi pengukuran dan pengambilan contoh tanah terletak di dalam kuadran untuk pengukuran tumbuhan bawah dan seresah.
- Pengukuran dan pengambilan contoh tanah dilakukan setelah pengukuran tumbuhan bawah dan seresah. Dengan demikian, pada lokasi pengukuran dan pengambilan contoh tanah, tumbuhan bawah dan seresah sudah tidak ada lagi. Untuk itu, lokasi kuadran untuk pengukuran tumbuhan bawah dan seresah harus terhindar injakan selama pengambilan contoh tanaman, kayu mati atau seresah.
- Untuk pengambilan contoh tanah diperlukan luasan permukaan tanah seluas minimal 3 x 20 cm x 20 cm . Dengan demikian, luas permukaan tanah yang diperlukan untuk pengambilan contoh tanah melebihi luasan kuadran 0,5 m x 0,5 meter (untuk pengukuran tumbuhan bawah dan seresah). Untuk itu, permukaan tanah di luar kuadran 0,5 m x 0,5 m yang diperlukan untuk pengukuran dan pengambilan contoh tanah juga harus dibersihkan dari tumbuhan bawah dan seresah. Akan tetapi, tumbuhan bawah dan seresah yang berada di luar kuadran tidak perlu ditimbang.
- Siapkan box besi (ukuran 20 cm x 20 cm x 10 cm) dan peralatan lainnya untuk pengambilan contoh tanah.
- Tancapkan box besi ke permukaan tanah, tekan perlahan-lahan.
- Pukul pelan-pelan menggunakan balok kayu hingga box besi masuk ke dalam tanah sesuai kedalaman yang diinginkan.
- Jika mengalami kesulitan saat membenamkan box besi (misalnya ada akar pohon berukuran besar atau batu), ulangi sekali lagi dengan jalan memindahkan pada tempat di sampingnya hingga berhasil, tetapi masih berada di dalam sub-plot berukuran 5 x 25 cm.
- Gunakan skop lurus untuk membantu memotong tanah, dengan cara mencapkan dan mendorongnya ke dalam tanah persis diluar batas box besi.
- Apabila diperlukan, gali tanah sekitar 5 cm jaraknya di sisi luar dari box besi.
- Lanjutkan dengan meletakan balok kayu di atas box besi dan memukulnya pelanpelan menggunakan palu karet hingga box besi masuk secara sempurna ke dalam tanah, sampai kedalaman 10 cm.
- Tutuplah bagian atas box tanah tersebut dengan plastik dan ikatlah dengan karet gelang.
- Potong tanah di bawah box menggunakan pisau tanah, setelah tanah terpotong angkatlah perlahan-lahan agar tanah tetap berada utuh di dalam box.
- Balikkan box tanah dan rebahkan perlahan-lahan di atas permukaan tanah yang datar.
- Buang tanah yang ada di permukaan luar box besi menggunakan scrap hingga bersih
- Ratakan tanah pada bagian atas dan bawah box besi menggunakan scrap atau pisau tanah.
- Keluarkan semua tanah yang ada dalam box besi, tampunglah dalam kantong plastik dan timbang berat basahnya. Berat basah tanah tersebut, yang merupakan berat tanah pada volume 4000 cm3 .
- Catat beratnya dalam lembar pengamatan yang disediakan (Tallysheet).
- Ambil sub-contoh tanah seberat 200 gram dan masukan ke dalam plastik serta diberi label: plot contoh, nomor sub-plot dan kedalaman.
- Lakukan prosedur yang sama seperti di atas untuk kedalam 10 – 20 cm, dan kemudian kedalaman 20 – 30 cm, dengan lokasi pengambilan contoh kedalaman 10 – 20 cm terletak persis disebelah pengambilan contoh 0 – 10 cm. Contoh tanah kedalaman 20 – 30 cm terletak persis di sebelah pengambilan contoh kedalaman 10 – 20 cm.
Untuk mengetahui lebih banyak mengenai Petunjuk Teknis
Pengukuran Stok Karbon Pada Plot Contoh National Forest Inventory (NFI)
(Dokumen NFI no.3), berikut link untuk mendownloadnya
Langganan:
Postingan (Atom)







