menulis memaksa aku untuk membaca, membaca membuat aku berfikir, berfikir membuat aku...........
Senin, 29 Februari 2016
ANALISIS POTENSI EROSI PADA PENGGUNAAN LAHAN di DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
Erosi
Erosi adalah suatu proses atau peristiwa
hilangnya lapisan permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air
maupun angin (Suripin, 2004). Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu
pelepasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan
pengendapan (deposition) bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi (Asdak,
1995).
Percikan
air hujan merupakan media utama pelepasan partikel tanah pada erosi yang
disebabkan oleh air. Pada saat butiran air hujan mengenai permukaan tanah yang
gundul, partikel tanah terlepas dan terlempar ke udara. Karena gravitasi bumi,
partikel tersebut jatuh kembali ke bumi. Pada lahan miring partikel-partikel
tanah tersebar ke arah bawah searah lereng. Partikel-partikel tanah yang terlepas
akan menyumbat pori-pori tanah. Percikan air hujan juga menimbulkan pembentukan
lapisan tanah keras pada lapisan permukaan.Hal ini mengakibatkan menurunnya
kapasitas dan laju infiltrasi tanah. Pada kondisi dimana intensitas hujan
melebihi laju infiltrasi, maka akan terjadi genangan air dipermukaan tanah,
yang kemudian akan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan ini menyediakan energi
untuk mengangkut partikel-pertikel yang terlepas baik oleh percikan air hujan
maupun oleh adanya aliran permukaan itu sendiri. Pada saat energi aliran
permukaan menurun dan tidak mampu lagi mengangkut partikel tanah yang terlepas,
maka partikel tanah tersebut akan mengendap baik untuk sementara atau tetap
(Suripin, 2004).
Erosi yang diijinkan
Erosi
tidak bisa dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk
lahan-lahan pertanian. Tindakan yang dilakukan adalah dengan mengusahakan
supaya erosi yang terjadi masih dibawah ambang batas yang maksimum (soil
loss tolerance), yaitu besarnya erosi yang tidak melebihi laju pembentukan
tanah (Suripin, 2004).Untuk memberikan gambaran tentang potensi erosi yang hasilkan,
United States Department of Agriculture (USDA) telah menetapkan
klasifikasi bahaya erosi berdasarkan laju erosi yang dihasilkan dalam
ton/ha/tahun seperti diperlihatkan pada Tabel 1 (Kironoto, 2003). Klasifikasi
bahaya erosi ini dapat memberikan gambaran, apakah tingkat erosi yang terjadi
pada suatu lahan ataupun DAS sudah termasuk dalam tingkatan yang membahayakan
atau tidak, sehingga dapat dijadikan pedoman didalam pengelolaan DAS.
Model Prediksi Erosi (USLE)
Salah
satu model untuk memprediksi laju erosi pada permukaan lahan adalah USLE
(Universal Soil Loss Equation) yang dikembangkan oleh Wischmeier dan
Smith tahun 1985 (dalam Sutapa, 2010), dimana metode USLE dapat
dimanfaatkan untuk memprakirakan besarnya erosi untuk berbagai macam kondisi
tataguna lahan dan kondisi iklim yang berbeda. USLE memungkinkan
perencana memprediksi laju erosi rata-rata lahan tertentu pada suatu kemiringan
dengan pola hujan tertentu untuk setiap jenis tanah dan penerapan pengelolaan
lahan (tindakan konservasi lahan). USLE dirancang untuk memprediksi
erosi jangka panjang dari erosi lembar (sheet erosion) dan erosi alur di
bawah kondisi tertentu. Persamaan tersebut juga dapat memprediksi erosi pada
lahan-lahan non pertanian, tapi tidak dapat untuk memprediksi pengendapan dan
tidak memperhitungkan hasil sedimen dari erosi parit, tebing sungai dan dasar
sungai (Suripin, 2004). Secara matematis model USLE dinyatakan dengan :
Ea = R x K x LS x C x P
Dimana :
|
Ea
|
=
|
Banyaknya tanah yang hilang (ton/ha/tahun)
|
|
R
|
=
|
Faktor erosivitas hujan
|
|
K
|
=
|
Faktor erodibilitas tanah
|
|
LS
|
=
|
Faktor panjang dan kemiringan lereng
|
|
C
|
=
|
Faktor penutup lahan
|
|
P
|
+
|
Faktor tindakan konservasi
|
Metode Analisis Data
Metode
analisis data dilakukan dengan penyusunan model data spasial menggunakan pendekatan
Sistim Informasi Geografis (SIG) dalam hal ini menggunakan perangkat lunak
ArcMap GIS. Keempat jenis peta yang digunakan dalam analisis ini, di dalam
ArcMap dinyatakan sebagai layer-layer dalam bentuk shape file (shp) dan dibuat
dengan skala yang sama. ArcMap dapat melakukan input secara interaktif, proses
editing yang sangat fleksibel dan output sesuai kebutuhan. Setiap layer yang mewakili
setiap peta selalu dilengkapi dengan data digital yang dapat diolah dan diakses
pada perangkat pengolah data yang lain seperti Microsoft Exell. Hasil akhir
dari analisis SIG ini adalah unit-unit lahan dengan segala data atribut yang dihasilkan
dari proses tumpang tindih layer.
Secara
lebih rinci pengolahan data dilakukan dengan sebagai berikut :
|
-
|
Peta rupa bumi skala 1 : 50.000 diperlukan
untuk mengetahui batas-batas setiap DAS dan dihitung luasnya dengan
menggunakan ArcMap.
|
|
-
|
Data curah hujan diperlukan untuk menghitung
nilai erosivitas hujan (R). Erosivitas hujan (R).
|
|
-
|
Peta vegetasi berupa tata guna lahan
digunakan untuk mendapatkan nilai “CP” pada daerah tersebut.
|
|
-
|
Peta jenis tanah digunakan untuk mendapatkan
faktor erodibilitas (K).
|
|
-
|
Peta kemiringan lereng digunakan untuk
menentukan nilai “LS”.
|
Setelah
rincian pengolahan data diatas selesai dilakukan, maka selanjutnya dapat
dilakukan kalkulasi peta dengan melakukan tumpang tindih/overlay
terhadap peta-peta tersebut, kemudian setelah itu dapat dilakukan analisis
erosi lahan dengan menggunakan metode USLE yakni dengan mengalikan semua
faktor parameter USLE. Hasil dari analisis erosi tersebut dapat menghasilkan gambar/peta
kelas bahaya erosi berdasarkan unit-unit lahan dari proses tumpang tindih/overlay
terhadap peta-peta yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pengolahan Model Data Spasial
Pengolahan
model data spasial dalam SIG ini yakni melakukan proses tumpang tindih
layer/overlay (union) terhadap masing-masing layer yang mewakili setiap jenis
peta, sehngga hasil yang akan didapatkan dari proses tumpang tindih layer ini
ialah berupa unit-unit lahan beserta atribut data yang berisi jenis penggunaan
lahan, jenis tanah dan kemiringan lereng pada masing-masing unit lahan tesebut.
Pada penyusunan tugas akhir ini, dilakukan 2 kali proses tumpang tindih layer
yakni :
1.
Proses pertama : peta tata guna lahan DAS ,
peta jenis tanah DAS peta kemiringan lereng DAS.
2. Proses
kedua : peta tata guna lahan DAS, peta jenis tanah DAS dan peta kemiringan
lereng DAS.
Menentukan Faktor Erosivitas Hujan (R)
Persamaan
USLE menetapkan bahwa nilai R yang merupakan daya perusak hujan
(erosivitas hujan) tahunan. Erosivitas hujan merupakan perkalian antara energi
hujan total (E) dan intensitas hujan maksimum 30 menit (I30).
Kedua faktor tersebut, E dan I30 selanjutnya dapat
ditulis sebagai EI30. Bolls (1978 dalam Arsyad, 1989)
mengembangkan persamaan penduga EI30 sebagai berikut :
El30 = 6,119 (RAIN)1,21
(DAYS)-0,47 (MAXP)0,53
dimana :
|
RAIN
|
=
|
Curah hujan rata-rata bulanan (cm)
|
|
DAYS
|
=
|
Jumlah hari hujan rata-rata per bulan
|
|
MAXP
|
=
|
Curah hujan maksimum selama 24 jam dalam
bulan yang bersangkutan
|
Menentukan Faktor Erodibilitas Tanah (K)
Penentuannilai
erodibilitas tanah ialah kemampuan/ketahanan partikel tanah terhadap
pengelupasan dan pemindahan tanah akibat energi kinetik hujan. Tabel
2menunjukkan nilai faktor erodibilitas tanah berdasarkan jenis tanah di DAS. Nilai Faktor Erodibilitas tanah yang terdapat
pada tabel 2 mengacu pada nilai erodibilitas tanah yang dikeluarkan oleh Dinas
RLKT, Departemen Kehutanan dan juga hasil analisa laboratorium untuk menduga
besarnya nilai erodibilitas tanah pada beberapa jenis tanah di Indonesia (Kironoto,
2003 dalam Sutapa, 2010).
Tabel 2
menunjukkan jenis tanah podsolik memiliki nilai faktor erodibilitas tanah (K)
yang paling rendah, hal ini berarti unit lahan dengan jenis tanah podsolik
memiliki kepekaan erosi yang lebih baik ketimbang jenis tanah lainnya yang
terdapat dalam setiap unit lahan di DAS. Seperti yang dikemukakan oleh Arsyad,
1989 menyatakan bahwa sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi adalah
sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas dan
kapasitas menahan air dan sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur
tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh serta
aliran permukaan.
Menentukan Faktor Kemiringan Lereng (LS)
Dalam
praktek lapangan nilai L sering dihitung sekaligus dengan faktor kecuraman (S)
sebagai faktor kemiringan lereng (LS). Tabel 3 menunjukkan nilai faktor LS
berdasarkan kemiringan lereng di DAS yang hasilnya mengacu pada nilai faktor
kemiringan lereng berdasarkan kelas lereng yang dikeluarkan oleh Departemen
Kehutanan (Sutapa, 2010).
Tabel 3
menunjukkan bahwa kemiringan lereng yang besar pada suatu unit lahan akan berimbas
pada nilai faktor LS yang besar, hal ini karena jika lereng permukaan tanah
makin curam maka akan memperbesar kecepatan aliran permukaan yang dengan
demikian memperbesar energi angkut air, selain itu dengan makin curamnya
lereng, maka jumlah butir-butir tanah yang terpercik kebawah oleh tumbukan
butir hujan semakin banyak dan lereng permukaan tanah menjadi dua kali lebih
curam maka banyaknya erosi persatuan luas menjadi 2,0-2,5 kali lebih banyak.
Menentukan Nilai Faktor Penggunaan Lahan dan
Pengelolaan Tanah (CP)
Nilai
faktor CP ditentukan berdasarkan jenis penggunaan lahan dan pengelolaan lahan
pada setiap unit lahan di DAS. Dalam penelitian ini data yang digunakan untuk
menetukan nilai faktor penggunaan lahan dan pengelolaan tanah (CP) ialah peta
tata guna lahan di DAS yang bersangkutan. Tabel 4 menunjukkan nilai faktor CP
untuk berbagai aspek pengelolaan lahan yang mengacu pada Nilai Faktor Vegetasi
Penutup Tanah dan Pengelolaan Tanaman (CP) yang terdapat dalam buku Hidrologi
dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Asdak, 1995).
Terdapatnya
konservasi tanah dengan tutupan lahan yang baik akan melindungi tanah dari
butiran hujan secara langsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Seta (1987) yang menyatakan
bahwa setiap tanaman yang menutupi tanah adalah penghambat aliran permukaan. Dengan
terhambatnya aliran permukaan, maka akan memberikan kesempatan pada air untuk
masuk kedalam tanah (infiltrasi) sehingga jumlah aliran permukaan juga akan
berkurang.
Sumber : Sianga, J., Kartini., Yuniarti, E. "Analisis Potensi Erosi pada Penggunaan Lahan Daerah Aliran Sungai Sedau di
Kecamatan Singkawang Selatan".
Jumat, 26 Februari 2016
Metode Rational Untuk Estimasi Debit Puncak
Perkiraan
debit puncak sangat penting untuk diketahui, bersama aspek hidrologi lainnya
seperti debit minimum dan hasil air. Debit puncak digunakan untuk identifikasi
kesehatan suatu daerah aliran sungai (DAS), perencanaan pengelolaan DAS, serta untuk
monitoring dan evaluasi kinerja DAS. Debit puncak yang tinggi mencerminkan kerusakan
suatu DAS, oleh karena itu data debit puncak sangat diperlukan. Namun demikian,
banyak DAS yang belum mempunyai pencatatan hidrologi sehingga data debit puncak
ini tidak tersedia. Untuk itu perlu dilakukan pemodelan hidrologi untuk
estimasi debit puncak tersebut.
Banyak
metode yang tersedia untuk estimasi puncak banjir, namun tidak ada metode
tunggal yang dapat diterapkan untuk seluruh DAS. Masing-masing metode mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Metode Rational adalah salah satu metode untuk
memperkirakan debit puncak dalam suatu DAS. Metode ini adalah metode yang
paling sederhana dan paling banyak digunakan. Namun jika persyaratannya tidak
dipenuhi maka hasil estimasi debit puncak tersebut bisa menyimpang. Konsep dari
metode Rational cukup canggih dan mensyaratkan pengetahuan teknik yang
sangat dalam khususnya untuk memilih karakteristik hidrologi yang dianggap
mewakili seperti waktu konsentrasi dan koefisien aliran (Hayes dan Young, 2005).
Trommer
et al. (1996) dalam penelitiannya di Florida menyebutkan bahwa perkiraan
awal debit puncak dengan menggunakan metode Rational menghasilkan kesalahan
rata-rata dengan kisaran perkiraan rendah 50,4% sampai perkiraan tinggi 76,7%
dengan koefisien aliran berkisar 0,2 sampai 0,6. Teknik kalibrasi dengan
pencatatan langsung menghasilkan kesalahan rata-rata berkisar dari perkiraan
rendah 3,3% sampai perkiraan tinggi 1,5% dengankoefisien aliran yang sudah
dikalibrasi sebesar 0,02 sampai 0,72.
Metode
Rational ini mensyaratkan beberapa kondisi, antara lain: 1) hujan jatuh
merata di seluruh DAS, 2) hujan tidak bervariasi dalam waktu dan tempat, 3) waktu
banjir sama dengan waktu konsentrasi, 4) luas DAS bertambah sejalan dengan
bertambah panjangnya DAS, 5) waktu konsentrasi relatif pendek dan tidak tergantung
pada intensitas banjir, 6) koefisien aliran tidak bervariasi dengan intensitas banjir
dan kelembaban tanah awal, 7) run-off didominasi oleh aliran permukaan, dan
8) pengaruh tampungan DAS diabaikan. Hampir semua persyaratan tersebut sangat
jarang ditemui di alam. Namun demikian metode ini perlu dicoba diterapkan pada beberapa
sub DAS yang mempunyai luas yang berlainan. Penerapan metode Rational
ini direkomendasikan untuk DAS yang kecil dengan luas < 2.500 ha (Cawley dan
Cunnane, 2003).
Ada
dua faktor utama yang mempengaruhi besarnya debit puncak yaitu karakteristik hujan
dan karakteristik DAS. Karakteristik hujan meliputi lama, jumlah, intensitas, dan
distribusi; sedangkan karakteristik DAS meliputi ukuran, bentuk, topografi,
jenis tanah, geologi, dan penggunaan lahan. Dalam penelitian ini disajikan
karakteristik DAS masing-masing sub DAS terpilih.
Dalam
mengestimasi debit puncak (qp) dengan metode Rational digunakan persamaan
berikut (Subarkah, 1980):
qp = 0,278 C.I.A.
......................... (m3/detik)
dimana:
|
A
|
:
|
Luas daerah aliran sungai (km2)
|
|
I
|
:
|
Intensitas hujan maksimum selama waktu yang sama
dengan waktu konsentrasi (mm/jam)
|
|
C
|
:
|
Koefisien run off yang didasarkan pada
faktor-faktor daerah pengalirannya seperti jenis tanah, kemiringan dan
keadaan vegetasi penutupnya.
|
|
0,278
|
:
|
Tetapan
|
|
|
|
|
Intensitas
hujan (I) didapat dari persamaan :
I = (R/24) . (24/Tc)0,67
Dimana
|
I
|
:
|
Intensitas hujan maksimum selama waktu yang sama
dengan waktu konsentrasi (mm/jam)
|
|
R
|
:
|
Hujan harian (mm)
|
|
Tc
|
:
|
Waktu konsentrasi (jam)
|
|
|
|
|
Penentuan
waktu konsentrasi (Tc) didapat dari :
Tc = L1,15 / 7700 H0,385
Dimana
:
|
L
|
:
|
Panjang sungai utama (km)
|
|
H
|
:
|
Beda tinggi antara titik tertinggi dengan titik
terendah pada DAS (m)
|
|
|
|
|
Besarnya koefisien run off (C)
didasarkan pada keadaan daerah pengaliran seperti tertera pada tabel 1.
Untuk analisis data debit
puncak dihitung berdasarkan hasil perkalian antara koefisien aliran, intensitas
hujan, dan waktu konsentrasi. Koefisien aliran dalam satu sub DAS diperoleh dari
hasil analisis GIS dengan penampalan (overlay) peta penutupan lahan,
kemiringan lereng, dan jenis tanah. Intensitas hujan dan waktu konsentrasi diperoleh
dari rumus-rumus di atas. Hasil penaksiran debit puncak dibandingkan dengan
hasil pengukuran langsung. Perbedaan antara hasil penaksiran dan pengukuran
dibandingkan pada masing-masing sub DAS. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penaksiran debit puncak dianalisis kepekaannya.
Sumber : Pramono, I.B.,
Wahyuningrum, N., & Wuryata, A. (2010) Penerapan Metode Rational Untuk
Estimasi Debit Puncak pada Beberapa Luas SUB DAS.
Cadangan Karbon
Pemanasan global (global warming) menjadi isu hangat yang semakin sering dibahas, khususnya mengenai perubahan iklim. Hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup (2012) menyebutkan bahwa dampak dari pemanasan global di Palembang ditandai dengan adanya trend kenaikan suhu udara sebesar 0,31 °C sepanjang 25 tahun terakhir.
Perubahan iklim terjadi melalui proses panjang akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Gas karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu GRK yang memberikan andil besar dalam pemanasan global dengan menyumbang 20% dari seluruh emisi GRK. Selain CO2 gas rumah kaca lainnya diantaranya adalah metana (CH4), nitros oksida (N2O), nitrogen oksida (NOx), sulfur heksaflourida (SF6), hidrofluorokarbon (HFC) dan perfluorokarbon (PFC).
Hutan mempunyai manfaat sebagai tempat penyimpanan dan penyerapan karbon. Hairiah dan Subekti (2007) menerangkan bahwa hutan alami merupakan penyimpanan karbon tertinggi bila dibandingkan dengan lahan pertanian.
Gambar 1. Hutan sebagai carbon sink
Peranan hutan dalam mengurangi CO2 di atmosfer dilakukan melalui proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, CO2 di udara diserap oleh tanaman kemudian diubah menjadi karbohidrat, disebarkan ke seluruh tubuh tanaman yang ditimbun dalam batang, daun, ranting, akar, bunga, dan buah. Menurut Junaedi (2008), adanya kemampuan alami tumbuhan untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis menyebabkan hutan memiliki peran yang sangat vital dalam menyerap CO2 pada skala jumlah yang besar. Hal ini terjadi karena di dalam hutan terjadi proses akumulasi penyerapan CO2 secara kolektif oleh tumbuhan.
Kemampuan hutan menyerap dan menyimpan karbon berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim memberi peluang ekonomi dalam skema perdagangan karbon. Cadangan karbon menjadi penting dalam pengelolaan kawasan hutan. Selain sebagai sumber masukan bagi pengelola kawasan konservasi ketika mekanisme perdagangan karbon sudah berjalan, informasi cadangan karbon juga dapat dijadikan dasar dalam memelihara dan meningkatkan penyerapan karbon melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Cadangan karbon pada dasarnya merupakan banyaknya karbon yang tersimpan pada vegetasi, biomass lain dan di dalam tanah (Lugina dkk, 2011). Jumlah karbon tersimpan berbeda-beda tergantung pada keragaman jenis dan kerapatan tumbuhan serta jenis tanah. Besarnya nilai cadangan karbon dapat diketahui dengan cara mengukur karbon tersimpan pada sumber-sumber karbon (carbon pool). Teknis pengukuran karbon secara umum dapat mengacu pada IPCC 2006 atau SNI 7724-2011 dan SNI 7725-2011.
Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang
Salah satu tempat tujuan wisata di Palembang adalah Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu yang teletak di Jl.Kol.H.Burlian, kurang lebih sekitar 6 Km dari jembatan Ampera. Akses menuju Punti Kayu sangat mudah sebab bisa dicapai menggunakan transmusi, angkutan kota maupun bis kota.
TWA Punti Kayu, pernah dikenal dengan nama Taman Sari atau Taman Syailendra. Punti Kayu sendiri berasal dari bahasa komering, salah satu suku di Sumatera Selatan yang berarti pohon pepaya. Pada masa pemerintahan Belanda kawasan hutan Punti Kayu dinamakan Erpacht Punti Register 51.
Pada tahun 1985 hutan Punti Kayu pernah dijadikan sebagai hutan percobaan pinus kemudian diubah fungsinya menjadi hutan wisata. Itulah mengapa pohon pinus mendominasi di TWA Punti Kayu.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa TWA Punti Kayu merupakan kawasan hutan konservasi yang dimanfaatkan untuk kegiatan parawisata dan rekreasi. Untuk itu kegiatan parawisata di TWA Punti Kayu tidak boleh bertentangan dengan prisip-prinsip konservasi dan perlindungan alam. Selain sebagai tempat wisata, TWA Punti Kayu mempunyai peranan penting dalam hal ,jasa lingkungan, yaitu sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2.
Sumber : Buku "TWA Punti Kayu: Menjaga Keseimbangan Iklim Kota Palembang"
Sumber : Buku "TWA Punti Kayu: Menjaga Keseimbangan Iklim Kota Palembang"
Senin, 15 Februari 2016
Model Erosi GUEST (III)
Kelemahan
dan keunggulan
Dibandingkan dengan USLE, salah satu keunggulan dari
model fisik seperti GUEST adalah terakomodasinya fungsi filter sedimen. Dalam
model GUEST terdapat tiga parameter yang dapat dipengaruhi oleh specific
filterstrips dan tipe penggunaan lahan, yaitu: koefisien manning, faktor
penutupan permukaan lahan (the surface contact cover factor) yakni Cs
dan Ks. Koefisien Manning’s meningkat ketika kekasaran permukaan meningkat, dan
membuat kecepatan aliran menurun, selanjutnya menyebabkan hasil sedimen (sedimen
yield) menurun. Cs dan Ks merupakan faktor penyesuaian untuk menggunakan persamaan
pada kondisi tanah berpenutup (covered soil), sebagai pengganti dari tanah
bera (Schmitz dan Tameling, 2000). Cs (contact cover fraction)
ditentukan oleh tipe penggunaan lahan (land use), termasuk penutupan
permukaan tanah oleh mulsa atau serasah (daun yang jatuh di atas permukaan tanah).
Ks merupakan data empiris dan merupakan faktor tidak berdimensi (dimensionless
factor), mempunyai kisaran nilai antara 5-15 (Rose, 1997). Schmitz dan
Tameling (2000) mengasumsikan nilai Ks sebesar 10 dengan nilai kesalahan 5
untuk prediksi erosi pada lahan usaha tani kopi, sedangkan untuk lahan sawah Sinukaban
et al. (2000) menetapkan Ks sebesar 5.
Faktor erodibilitas tanah yang digunakan dalam model
GUEST (β)
lebih pasti dibandingkan dengan K dalam USLE. β, sebagian besar berhubungan dengan
soil strength. Depositability (Ф)
atau kemampuan agregat atau partikel tanah untuk mengendap, juga dilibatkan
dalam penghitungan erosi. K merupakan gabungan dari beberapa parameter (lumped
parameter) yang tergantung dari: karakteristik infiltrasi, koefisien kekasaran
manning, kecenderungan untuk membentuk alur (rill) stabilitas agregat tanah
terhadap curah hujan, kecenderungan tanah untuk terkonsolidasi atau menjadi
kuat direfleksikan dalam β.
Tabel. Perbedaan utama antara model USLE dan
GUEST
|
||
Karakteristik
|
USLE
|
GUEST
|
Temporality
|
Statis ( simulasi erosi pada
rata-rata tahunan)
|
Semi statis (simulasi erosi dapat
dilakukan per kejadian)
|
Persamaan
|
Empiris, berdasarkan data statistik
dari penelitian pengukuran erosi
|
Physically based (meskipun
beberapa hubungan empirik digunakan)
|
Proses
|
Implisit (tidak dapat mengisolasi/memisahkan
pengaruh dari given variable)
|
Explicit
(memungkinkan untuk mengisolasi / memisahkan pengaruh dari suatu given
variable)
|
Kompleksitas
|
Sederhana
|
Lebih kompleks
|
Kebutuhan
|
Input parameter
sedikit
|
Parameter tidak terlalu banyak
|
Skala
|
Ukuran plot (plot size)
|
Plot dan small catchments
bila dioperasikan dengan program geostatistik yang dinamik.
|
Aplikasi
|
Cropland (lahan
pertanaman), range land (lahan penggembalaan), hutan
|
Cropland (lahan
pertanaman), range land (lahan penggembalaan), hutan
|
Keterbatasan
|
Ketidakakuratan untuk area-area
tanpa kalibrasi lapangan, tidak boleh digunakan pada keadaan gully (ephemeral
gully), masalah untuk multiple land uses pada suatu kemiringan
lahan, kadang-kadang overestimasi, tidak bisa digunakan untuk prediksi sediment
deposition, tidak untuk menghitung distribusi spasial sedimen pada lereng
bukit (hill slope)
|
Hubungan empiris dimasukkan untuk
menyederhanakan persamaan
|
Keuntungan
|
Sederhana, diterima dan digunakan
secara luas
|
Divalidasi untuk negara-negara di
daerah tropis, menggunakan runoff untuk menghitung erosi
|
Fasilitas komputer
|
Ya/Tidak
|
Ya
|
Output
|
Rata-rata erosi jangka panjang per
unit area
|
Konsentrasi sedimen per kejadian
hujan
|
Sumber : ICRAF
|
||
Model Erosi GUEST (II)
Operasional Model Guest
Data yang diperlukan untuk menjalankan model GUEST
dengan SIG- PCRaster adalah (1)
informasi tanah, berupa
data run-off dan infiltrasi,
data kohesi tanah, dan berat jenis sedimen; (2) garis kontur, berupa DEM
(digital elevation model), slope, dan aspek/arah, serta LDD (local drain direction); (3) land use, berupa koefisien Manning’s,
dan contact cover; (4) jaringan sungai; dan (5) data iklim
berupa curah hujan.
Data tinggi permukaan tanah digunakan untuk membangun
peta DEM. Proses ini memerlukan konversi format vektor ke raster yang
dikerjakan dengan bantuan ektensi grid
tools analysis tetapi sebelumnya format vektor diubah dulu dalam area-area triangulasi atau disebut
TIN (triangulated irregular networks) prosedur. Proses ini dikerjakan dengan bantuan ektensi 3D dan spatial analysis dari program ArcView 3.1. Selanjutnya diekspor ke
dalam format ASCII yang dipakai sebagi masukan data spasial dari PCRaster.
Sebelum konversi ke format raster
diperlukan clone.map (tipe scalar) yang
merupakan kloning dari
data spasial sebelumnya.
Peta DEM digunakan untuk membuat peta lereng dan peta
LDD, yaitu peta arah aliran (flow path)
dari aliran permukaan. Peta lereng digunakan untuk menghitung besarnya sedimen
yang terangkut dari satu raster ke raster yang lain. Sedangkan arah aliran
digunakan untuk menghitung besarnya debit run-off
atau erosi yang terjadi per satuan raster. Peta LDD dibuat dengan komando
operasi PCRaster sebagai berikut:
PCRCalc LDD.map = lddcreate(DEM.map,1,1e35,1e35,1e35)
Seperti halnya peta DEM, maka peta tanah analog perlu
diubah ke peta digital, yang memerlukan konversi format vektor ke raster yang
dikerjakan dengan bantuan ektensi grid tools
analysis dari program
ArcView 3.1
dan tidak memerlukan TIN
prosedur. Selanjutnya diekspor ke dalam format ASCII yang dipakai sebagi
masukan data spasial dari PCRaster. Sebelum konversi ke format raster diperlukan
clone.map (tipe nominal) yang merupakan kloning dari data spasial sebelumnya.
Peta tanah digunakan untuk membuat peta Sed-den dan
peta Sed-vel, yaitu kerapatan jenis tanah dari partikel tanah yang hanyut dalam
aliran permukaan dan laju kecepatan partikel tanah. Kerapatan jenis dan
kecepatan aliran partikel tanah sangat tergantung pada jenis tanah. Peta-peta
ini merupakan peta perantara yang digunakan untuk perhitungan selanjutnya dan
terjadi saat proses perhitungan dilakukan. Pengisian nilai-nilai spasial
peta-peta ini dilakukan dengan komando operasi LookUp dari PCRaster, yaitu:
PCRCalc Sedden.map =
lookupscalar(Density.tbl,Soil.map)
PCRCalc Sedvel.map =
lookupscalar(Velocity.tbl, Soil.map)
Peta tanah juga digunakan untuk membuat peta
erodibilitas tanah. Seperti halnya dengan peta sed-den dan sed-vel yang
merupakan data spasial perantara, digunakan untuk perhitungan selanjutnya,
proses pembuatan peta beta dilakukan dengan komando operasi LookUp dari
PCRaster, yaitu:
PCRCalc Beta.map =
lookupscalar(Cohesive.tbl,Soil.map)
Seperti halnya peta tanah, maka peta penggunaan lahan
analog perlu diubah ke peta digital, yang memerlukan konversi format vektor ke
raster yang dikerjakan dengan bantuan ektensi grid tools analysis dari
program ArcView 3.1 dan tidak memerlukan TIN prosedur. Selanjutnya
diekspor ke dalam format ASCII yang dipakai sebagai masukan data spasial dari
PCRaster. Sebelum konversi ke format raster diperlukan clone.map (tipe nominal)
yang merupakan kloning dari data spasial sebelumnya.
Peta penutupan lahan digunakan juga untuk membuat
peta kekasaran Manning’s dan peta contact cover (bagian tanah yang
terbuka dan langsung dikenai air hujan dan tidak tertutup oleh tanaman).
Peta-peta ini merupakan peta perantara yang digunakan untuk perhitungan
selanjutnya dan terjadi saat proses perhitungan dilakukan. Pengisian
nilai-nilai spasial peta-peta ini dilakukan dengan komando operasi LookUp dari
PCRaster, yaitu:
PCRCalc Manning.map =
lookupscalar(Manning.tbl,Crop.map)
PCRCalc Contcov.map =
lookupscalar(Contcov.tbl, Crop.map)
Kedua tabel Manning dan contact cover merujuk
pada jenis tanaman yang ada di lahan saat proses kejadian hujan dan erosi
terjadi. Nilai-nilai ini diadopsi dari hasil penelitian proyek ACIAR yang
dilakukan di Malaysia, Thailand, dan Philippina, dan Benua Australia belahan
Utara. Sedangkan Indonesia mengadopsi dari proyek ICRAF di Lampung, yaitu
tanaman tahunan berbasis kopi. Kedua peta ini selanjutnya digunakan untuk
menghitung debit aliran permukaan dan kapasitas angkut sedimen, serta deposisi
sedimen dalam satu jalur flow path.
Data curah hujan yang digunakan dalam model ini
adalah intensitas hujan dengan satuan mm per jam. Data ini diperoleh dari alat
curah hujan otomatis yang telah disetel untuk merekam data per enam menit.
Untuk itu diperlukan konversi sebagai berikut: pertama data per enam menit
diubah ke mm per jam dan dibuat dalam file Raind.tss; kedua setiap ada kejadian
hujan dibuat nilai 1 bila tidak 0 dan dibuat dalam file Raind.tss; ketiga enam
menit dikonversi ke detik (6 x 60 = 360) dan dibuat dalam file dune. Ketiga
file ini dibuat dalam format ASCII seperti halnya data tabular yang diperlukan
PCRaster untuk menjalankan model ini. Selain itu dari beberapa data yang telah
direkam harus dipilih hujan tunggal untuk digunakan dalam model. Model ini menggunakan skrip komando operasi (perintah
ditulis dalam satu file yang diberi nama Model.mod) yang prosesnya secara
dinamis dihitung sesuai dengan timestep (penggal waktu) yang banyaknya
sama dengan input data hujan. Selanjutnya perhitungan otomatis dengan batch
file (1run.bat) yang berisi perintah model dengan mengetikkan PCRCalc –f
Model.mod.
Langganan:
Postingan (Atom)














